SANDARAN – Ketua PPTI Kutim Siti Robiah Ardiansyah, yang juga menjabat Ketua TP PKK Kutim, membuka langsung acara penyuluhan tersebut. Ia menekankan pentingnya merancang dan menjaga pola hidup sehat sebagai langkah awal yang efektif dalam mencegah penularan TBC.
“Harus ada perencanaan hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Penyakit TBC ini sangat cepat menular, jadi jangan menunggu sakit untuk bertindak,” tegas Siti Robiah di hadapan warga Sandaran.
Siti Robiah juga mengingatkan bahwa penanggulangan TBC tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui edukasi dan pendampingan bagi penderita.
“TBC bisa disembuhkan dengan sempurna, asal rutin berobat hingga tuntas. Kader-kader di kecamatan harus terus memberi edukasi dan mengawal agar TBC tidak menular,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para kader PPTI, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dan masyarakat atas partisipasi aktif dalam kegiatan ini.
“Terima kasih kepada teman-teman PPTI dan Dinkes yang sudah hadir. Mari bergandengan tangan untuk mengawal pengobatan TBC agar bisa benar-benar hilang. Target nasional tahun 2030 Indonesia bebas TBC, dan saya berharap Kutim bisa lebih cepat dari itu,” harapnya.
Suasana penyuluhan semakin hidup ketika Sekretaris PPTI Kutim dr. Muhammad Yusuf, menyampaikan materi penting tentang ciri-ciri dan bahaya penyakit TBC. Ia menjelaskan materi secara sederhana agar mudah dipahami oleh warga.
“Kalau ada yang batuk lebih dari tiga minggu, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, atau sering demam, itu sudah termasuk tanda-tanda TBC,” jelas dr. Yusuf.
Ia menambahkan, pemeriksaan lanjutan dengan tes mikroskopis di fasilitas kesehatan harus segera dilakukan. Alasannya, satu orang pengidap TBC bisa menularkan 15 sampai 20 orang di sekitarnya.
Yusuf juga menekankan pentingnya disiplin dalam mengonsumsi obat hingga tuntas, seraya mengingatkan bahwa banyak penderita yang berhenti minum obat di tengah jalan, yang dapat menyebabkan resistensi obat.
“Kalau tidak tuntas, penyakitnya akan jauh lebih sulit diobati. Jadi, harus patuh minum obat setiap hari sesuai anjuran dokter,” tegasnya.
Selain itu, Yusuf mengingatkan warga yang telah terdiagnosis TBC untuk selalu menjaga etika batuk dan menggunakan masker demi mencegah penularan ke orang lain.
“Kalau sudah tahu diri TBC, harus sadar diri juga pakai masker. Ini adalah tanggung jawab sosial kita bersama,” ujarnya.
PPTI Kutim, lanjutnya, memiliki target eliminasi TBC setiap tahun, dengan melibatkan kader di setiap desa.
“Minimal dua kader di tiap desa aktif memantau dan mendata warga bergejala. Harapannya, tidak ada lagi masyarakat Kutim yang menderita TBC,” tutup Yusuf.(ADV/ProkopimKutim/K)













