SANGATTA – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kutim dan Yayasan Senyum dan Harapan (YSH) bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kutim menggelar seminar edukatif bagi remaja. Kegiatan ini mengajak pelajar memahami pentingnya kesiapan mental, sosial, dan ekonomi sebelum menikah.
Praktisi gizi keluarga asal Yogyakarta, Deri Rizky Anggarani, hadir sebagai narasumber utama. Ia menjelaskan dari sisi kesehatan dan psikologis tentang bahaya pernikahan dini yang sering kali tidak disadari dampaknya.
“Banyak yang belum memahami, pernikahan dini bukan hanya soal usia, tapi kesiapan menghadapi kehidupan nyata. Kalau belum siap mental dan ekonomi, risikonya bisa panjang,” jelas Deri.
Kepala DPPPA Kutim Idham Chalid, mewakili Bupati Kutim H. Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
“Ini bukti kolaborasi nyata untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, dan dukungan berbagai pihak menjadi kunci,” ujarnya.
Menurut Idham, pernikahan dini masih banyak terjadi karena tekanan ekonomi, tradisi, dan rendahnya pendidikan. Edukasi remaja dianggap langkah paling efektif untuk mencegahnya sejak dini.
Seminar ini juga dihadiri Ketua APSAI Kutim sekaligus Manager Community Empowerment KPC Nanang Supriyadi, serta perwakilan Dinas Kesehatan, Disdikbud, PT Pamapersada Nusantara Site KPC, Perumdam Tirta Tuah Benua, YSH, Bank Kutim, PT DSN, dan CHE KPC Febriana Kurniasari.
“Kegiatan ini adalah komitmen dunia usaha mendukung generasi muda Kutim yang tangguh dan siap menatap masa depan. Kami ingin terus bersinergi dengan pemerintah menghadirkan lebih banyak program serupa,” kata Nanang.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Kutim menegaskan komitmennya menyiapkan generasi muda yang teredukasi, sadar diri, dan berdaya. Edukasi semacam ini bukan hanya langkah pencegahan pernikahan dini, tetapi juga investasi sosial bagi masa depan generasi emas Kutim. (ADV/ProkopimKutim/K)













