RANTAU PULUNG — Desa Pulung Sari, Kecamatan Rantau Pulung, mencatat sejarah penting pada Minggu pagi yang cerah. Sejak matahari baru menanjak, jalanan desa sudah hidup. Warga menyiapkan hidangan tradisional, para ibu memasak dengan senyum, dan tokoh masyarakat berjejer di tepi jalan menyambut tamu kehormatan: Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman dan istri, Ny Hj Siti Robiah.
Hari itu, tiga fasilitas publik diresmikan sekaligus: kantor desa, balai desa, dan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ketiganya menjadi nadi baru bagi kehidupan masyarakat Pulung Sari. Prosesi pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti berlangsung hangat, disaksikan Ketua TP PKK Kutim Hj Siti Robiah, Staf Ahli Bupati Hj Sulastin, Kadisdikbud Mulyono, Camat Rantau Pulung Tristiningsih, Forkopimcam, serta Kepala Desa Pulung Sari Suwoto.
Warga menyambut peresmian itu dengan rasa syukur. Mereka melihatnya sebagai awal baru bagi pelayanan yang lebih baik dan kehidupan desa yang lebih tertata.
“Semoga gedung ini meningkatkan kualitas pelayanan dan menjadi pusat aktivitas warga yang bermanfaat,” ujar Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Ia menegaskan bahwa pembangunan ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperluas pelayanan publik hingga pelosok desa. Ardiansyah juga menyoroti pentingnya pendidikan sejak usia dini sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun Kutim.
“Pendidikan usia dini adalah awal dari perjalanan panjang anak-anak kita. Pemerintah sudah menetapkan usia pendidikan 13 tahun, dimulai dari PAUD. Kesadaran ini harus tumbuh dari desa,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyinggung keterlibatan anak-anak Kutim dalam pendidikan tinggi di daerah sendiri. Ia menyebut dua perguruan tinggi lokal, STIPER dan STAIS, yang ironisnya masih lebih banyak diisi mahasiswa dari luar daerah.
“Sayang sekali, hanya 30 persen anak Kutim yang mengisi setiap angkatan. Padahal kita punya Baznas yang sudah membiayai 50 pelajar kuliah ekonomi syariah gratis di Depok. Ini tantangan bagi kita semua,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa alokasi dana desa dan dana RT meningkat signifikan—dari Rp50 juta kini menjadi Rp250 juta per RT.
“Gunakan dengan bijak untuk kesejahteraan warga,” pesannya.
Kepala Desa Suwoto menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan Pemkab Kutim. Menurutnya, kantor baru ini adalah ruang pelayanan yang lebih cepat, nyaman, dan transparan.
“Dengan fasilitas yang lebih lengkap, kami siap melayani lebih baik,” ujarnya.
Suwoto juga mengajukan usulan pembangunan lanjutan seperti masjid dan ambulans desa agar infrastruktur Pulung Sari semakin lengkap. Sementara itu, Camat Rantau Pulung, Tristiningsih, menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Pembangunan ini kita syukuri bukan dengan pesta, tapi dengan memperkuat spiritualitas. Kita mulai dengan tausiah Hj Kharisma Yogi Noviana dari Madiun,” ucapnya.
Tiga bangunan baru yang kini berdiri kokoh di jantung Pulung Sari menjadi penanda kemajuan fisik sekaligus kebangkitan moral dan sosial masyarakatnya. Dari kantor desa yang modern, balai yang terbuka, hingga PAUD yang menanamkan harapan sejak dini semuanya menjadi saksi bahwa pembangunan menyentuh martabat dan masa depan warga.
Pulung Sari hari ini bukan lagi desa yang menunggu perubahan. Ia telah membangkitkan batang terendam menjemput masa depan dengan kerja, doa, dan semangat baru dari Bumi Rantau Pulung. (ADV/ProkopimKutim/K)












